unmul

Ekspedisi Selatan Pegunungan Meratus

29 November 2014 adminimapa Panjat Tebing

Lima anggota Imapa Unmul berkesempatan menjalani ekspedisi ke selatan pulau Kalimantan. Tim terdiri dari Bondan Ardiansyah (Pubdok), Khoirul Amar (Sosekbud), Shodikun (Pemanjat 1), M. Alkahfi (Pemanjat 2), dan diketuai Agus Iswanto. Apa yang mreka lakukan di Desa Karang Liwar? Berikut jejak langkah bercerita.

Rabu, 16 November 2011.

Tim berangkat dari basecamp di desa Karang Liwar menuju tebing yang bgerjarak sekitar 20 menit perjalanan. Dilokasi kami langsung mendirikan camp yang berjarak sekitar 70 m dari kaki tebing dengan ketinggian sekitar 100 m itu. Setelah makan siang, tim menentukan poin start dan melakukan orientasi medan untuk pemanjatan keesokan harinya.

Kamis, 17 November 2011.

Pemanjatan dimulai pada pukul 09.00 wita. Shodikun memulai sebagai pemanjat pertama dengan belayer Alkahfi Erwin. Jalur pemanjatan ditandai dengan 7 pengaman hingga ke pitch 1. Menuju pitch selanjutnya pemanjat mengalami kesulitan karena terbentur roof. Tidak ada yang dapat dijadikan pegangan. Pemanjat pun bergeser ke kanan tebing tetapi harus turun sekitar 6 meter dan membuat pitch 2. Dari pitch 2 pemanjatan dimulai dengan menyisir ke kanan tebing untuk menuju ke pitch 3, untuk menuju pitch 3 pemanjat memasang 6 pengaman agar sampai ke pitch 3 yang menyerupai cerukan tebing. Karena waktu sudah tidak memungkinkan, pemanjatan dihentikan.

Jumat, 18 November 2011.

Pemanjatan Tebing

 

zzzMG_0467 zzzMG_0467Pemanjatan menuju ke pitch 3 dengan cara SRT (single rope teknik) menggunakan tali yang digunakan untuk turun pada hari sebelumnya. Pukul 10.00 pemanjatan dilanjutkan menuju pitch 4 dengan jarak sekitar 25 m dari pitch sebelumnya. Shodikun yang menjadi leader di pitch ini mengalami sedikit kesulitan karena medan yang di lewati memiliki kemiringan kurang dari 90 derajat. Pada saat belayer menjadi pemajat untuk membuka pengaman yang sudah di pasang oleh leader dia mengalami kendala untuk membuka salah satu pengaman alam berupa lubang yang berakibat dia terjatuh sekitar 2 meter lalu melanjutkan kembali dengan cara prusiking. Karena pengaman tersebut tidak dapat di lepas maka di memutuskan untuk mengambil kembali saat turun nanti. Sesampainya ke pitch 4 pemanjatan dilanjutkan kembali oleh Shodikun sebagai leadaer dan Alkahfi sebagai cleaner. Saat proses cleaning pengaman, Alkahfi kembali terjatuh karena batuan yang di pegang lepas. Pada pitch 4 – 5 ini batuan tebing yang dilewati rapuh yang dapat membahayakan dalam proses pemanjatan, tetapi di pitch ini memiliki banyak vegetasi sehingga memudahkan untuk memasang pengaman alam berupa batang pohon. Dipitch 5 saat mau melanjutkan pemanjatan ke puncak tebing tetapi terhalang oleh cuaca yang tidak bersahabat karena hujan, untung saja hujan tidak berlangsung lama sehingga pemanjatan bisa di lanjutkan kembali. Pada pitch 5 menuju top ini kemiringan tebing tidak seperti pitch-pitch sebelumnya karena kemiringan sudah sekitar 70 derajat yang mempermudah kami dalam pemanjatan. Kondisi dipuncak tebing penuh dengan vegetasi berupa tanaman paku yang rimbun dan batuannya sangat rapuh. Sesudah mengambil foto di puncak tebing pemanjat langsung turun karena hari sudah mulai gelap. Teknik yang digunakan untuk turun adalah teknik doubleroof  karena tidak ada jalur untuk menyisir ke bawah. Sesampainya di bawah kami sangat senang karena berhasil menyelesaikan pemanjatan dengan selamat dan memberi nama jalur terik pada jalur ini.

Sabtu, 19 November 2011.

Tim rehat hingga tengah hari untuk memulihkan kondisi tubuh karena kemarin sudah seharian penuh melakukan pemanjatan. Hari ini, ada dua kegiatan yang akan kami lakukan yaitu pemanjatan dan pendataan flora dan fauna. Pukul 12 tepat kami mulai kembali pemanjatan dan ada yang melakukan pendataan. Sebelum membuat jalur sport di tebing yang tingginya sekitar 12 m kami lakukan orientasi medan untuk menentukan titik-titik yang akan kami pasang jalur. Pada jalur sport ini kami memasang 4 buah hanger. Jalur ini kami namakan jalur 52 yang artinya 5 orang 2 angkatan karena tim ini terdiri dari 5 orang dan terbagi dari 2 angkatan yang berbeda. Untuk mengetes jalur ini kami akan lakukan pada keesokan harinya karena hari sudah sore dan kamipun kembali ke basecamp.

Minggu, 20 November.

Memulai pemanjatan dan pendataan flora dan fauna pada pukul 09.00 wita. Untuk pemanjatan hari ini kami mencoba jalur sport yang kami buat pada hari sebelumnya. Tester pada jalur ini adalah Shodikun dengan belayer Alkahfi. Siang hari kami melanjutkan jalur selanjutnya dengan teknik top roof atau tali sudah terpasang di puncak tebing. Pada sistem ini semua tim mencoba untuk memanjat jalur tersebut. Pukul 04.00 wita kami kembali ke basecamp dan packing semua peralatan serta membersihkan basecamp kami selama proses pemanjatan berlangsung. Setelah semua telah bersih kami langsung kembali menuju desa Karang Liwar.

Senin, 21 November 2011.

Hari ini kami fokus untuk melengkapi data sosekbud. Pukul 09.00 kami mulai berangkat dari basecamp kami di desa karang liwar menuju kantor desa Karang Liwar untuk mencari data monografi desa, disana kami temui Sekretaris Desa (sekdes) yaitu Bapak Alekman. Hanya beliau yang bisa ditemui. Tidak butuh waktu lama untuk melengkapi data. Setelahnya kami memberikan kenang-kenangan berupa plakat kegiatan kepada bapak Alekman.

Keluar dari kantor desa kami menuju kerumah tokoh Kaharingan yang telah diberitahu sekdes tadi, namanya adalah pak Hinggan beliau tinggal di desa sebelah, desa Bangkalan Dayak. karena tidak ada kendaraan kami meminjam motor inventaris desa. Karena perjalanan kerumah pak Hinggan melewati pasar, gereja dan wihara, maka kami singgah untuk melengkapi dokumentasi kami. Sampai di rumah pak Hinggan yang bersebrangan dengan gereja, kami di temui dengan sikap kesederhanaan dari pemilik rumah. Kami bertanya tentang Agama kaharingan dengan beliau dan beliaupun tak segan untuk menjawab pertanyaan yang kami ajukan, beliau juga bercerita tentang beberapa anaknya yang memilih untuk memeluk agama lain. Setelah kami rasa cukup data yang kami peroleh, kami melanjutkan mencari dokumentasi tempat ibadah agama Kaharingan yang biasa disebut “balai”. Di Balai itu kami menemui 3 orang wanita yang menjaga dan memelihara Balai, disitu kami meminta dokumentasi upacara adat setelah selesai kamipun kembali ke basecamp kami di desa Karang Liwar.

**************

Hutan di Kalimantan Selatan merupakan hutan tropika basah yang kaya flora dan fauna. Pada dinding tebing banyak dijumpai tetesan air yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Fauna di daerah ini berupa burung, serangga, dan reptil. Serta spesies lain yang susah ditemui di daerah lain.

Pengamat melakukan penelitian selama empat hari di wilayah lokasi tebing pemanjatan. Areal pengamatan dibatasi pada sampel yang luas wilayahnya telah ditentukan, dengan melakukan penyusuran, pengamatan, pencatatan dan pengambilan gambar guna mengetahui secara jelas mengenai objek penelitian baik Flora maupun Fauna yang terdapat dilokasi kegiatan.

PENDATAAN FAUNA

Kamis, 17 November 2011

Pengamatan dilakukan mulai pukul 10.00-16.00 WITA yang berlokasi disekitar tebing. Dijumpai beberapa jenis hewan seperti kadal, laba-laba, serta ulat bulu yang menempel di daun hijau. Kondisi tebing sedikit berlumut hingga ketinggian 5 meter, serta banyak dijumpai tetesan air kemudian kondisi cuaca terang.

Jumat, 18 November 2011

Waktu pengamatan dimulai pukul 09.00-16.00 WITA telah dijumpai hewan, seperti tawon kecil, burung enggang, dan kupu-kupu. terdengar keras suara mesin pemotong kayu. Kondisi cuaca hujan pada pukul 14.00-16.00 dan setelah itu terang.

Sabtu, 19 November 2011.

Waktu pengamatan dilakukan pukul 10.00-16.00 Wita. Beberapa jenis hewan yang dijumpai berupa kupu-kupu, semut, rayap, hewan kaki seribu/ luing, dan ulat daun. Kondisi cuaca cerah dan masih terdengar suara mesin pemotong kayu.

Minggu, 20 November 2011.

Waktu pengamatan pukul 09.30-16.00 Wita. Jenis hewan yang dijumpai berupa kupu-kupu, belalang, burung bubut dan serangga daun yang memiliki warna dan bentuk tubuh menyerupai daun yang sudah kering. Kondisi cuaca terang. Dilanjutkan pengamatan Flora disekitar lokasi tebing, mengambil sampel dengan luas lokasi yang telah ditentukan, yaitu 20 m².

FLORA

Jenis flora yang ada bervariatif, diantaranya tumbuhan menjalar menyerupai varietas labu, jenis anggrek putih, jamur, tumbuhan berdaun gatal yang belum diketahui namanya, pohon aren, kemudian beberapa jenis kayu. Seperti Meranti (Dipterocorpus Spesi), Hopea (Hopea spesia), Ulin (Eusideroxlyon) Kempos (Komposia Spesi), Damar (Agathis bornensis), Sindor (Sindora Spesi), dan masih banyak jenis pohon yang belum diketahui namanya. Diameter batang pohonya pun bermacam-macam:

  1. 1-15 cm                      = tak terhingga
  2. 15-25 cm                    = 49 pohon
  3. 25-40 cm                    = 28 pohon
  4. 40-60 cm                    = 7 pohon
  5. 60-100 cm                  = 3 pohon


Leave a Reply

Powered by WordPress and HQ Premium Themes.