unmul

Pendakian Gunung Malihat 2014

29 November 2014 adminimapa Hutan Gunung

Pendakian Gunung Malihat

Siang itu, matahari tidak malu melihatkan sinar dan panasnya. Senandung ayat-ayat suci Al-Qur’an terdengar keras menunggu datangnya adzan solat jum’at. Sementara 9 orang terlihat sedang beristirahat di sebuah rumah tidak jauh dari sumber suara keras itu…

Setelah melalui perjalanan panjang dan memakan waktu 1 hari lamanya akhirnya sekitar jam setengah 12 kami tiba di desa Busui Kab Paser bersama Tim Panjat Tebing Batu Butok IMAPA UNMUL yang beranggotakan 5 orang. Sementara kami dari Tim Pendakian Gunung Malihat beranggotakan 4 orang yaitu A’at sebagai Leader, Meli sebagai Dokumenter, Baga sebagai Pengamat Vegatasi dan Lagano sebagai Navigator sekaligus pembuka jalur. Sebenarnya kami bertolak dari Kota Samarinda berjumlah 15 orang, namun Tim Pendataan Goa yang berjumlah 6 orang sudah meninggalkan kami duluan di Batu Kajang. Kegiatan ini  merupakan kegiatan gabungan dari 3 divisi di IMAPA UNMUL, yang berlangsung dari tanggal 17-23 April 2014.

Selepas Solat Jum’at Tim Pemanjat Tebing Batu Butok melanjutkan perjalanan menuju desa Batu Butok. Sementara kami masih bersantai memulihkan tenaga di rumah Pak Resum yang berada tepat dibawah kaki Gunung Malihat. Sosok Pak Resum tentu sudah lama dikenal oleh para pendaki Gunung Malihat terutama pendaki dari IMAPA UNMUL. Sejak tahun 2000 Gunung Malihat sudah mulai sering didaki oleh Pecinta Alam Kalimantan Timur, dan bagi IMAPA UNMUL sendiri Gunung Malihat sudah menjadi destinasi tahunan dalam melatih skill Gunung Hutan para anggotanya.

Sore hari, sembari menyiapkan makan malam kami sudah menembak sudut Puncak Malihat dengan menggunakan kompas, hal ini kami lakukan pada sore hari karena untuk berjaga-jaga apabila besok pagi puncak tertutup kabut. Sudut Puncak dari desa adalah 80  ͦ, kemudian kami juga melakukan resection di peta dan plotting di GPS.

Malam hari pukul 20.00 wita selepas makan malam, kami melakukan brefing untuk rencana pendakian besok hari. Target kami untuk pendakian kali ini adalah Uji Fisik dan Mental, Penguasaan ilmu Navigasi Darat, Penguasaan ilmu Manajemen Perjalanan, dan Pengamatan Vegetasi Gunung Malihat. Setelah brefing kami istirahat.

Sabtu 19 April 2014

Pagi itu Tuhan memberikan rezki yang melimpah, benar saja terkadang hujan menjadi hal yang dibenci semua orang karena dapat menyebabkan banjir, tertundanya waktu, dan lain-lain. Namun jika manusia berpikir cerdas dan bijak sebenarnya Tuhan maha adil, karena air hujan itu sebetulnya bukan Cuma untuk manusia, tetapi juga untuk makhluk hidup yang lain. Namun manusia tetaplah manusia, termasuk juga kami yang duduk cemas di pagi itu menunggu berhentinya hujan. Kami pun memutuskan untuk memulai pendakian setelah hujan sudah agak reda, bukan karena kami tidak mampu untuk mendaki ketika hujan, tetapi karena sungai yang harus kita sebrangi sedang meluap dan tidak ada orang yang mau menyebrangkan ketika hujan.

Sekitar jam 11 siang akhirnya kami memulai perjalanan, kebetulan di tepi sungai beberapa orang hendak menuju lokasi tambang emas sehingga kami sekalian menumbang ke seberang sungai. Sesampainya diseberang sungai kami langsung melanjutkan perjalanan. Kami menyusuri jalan setapak di pinggir sungai hingga sampai di tanah lapang bekas tambang emas sekitar 40 menit. Disana kami menembak lagi sudut puncak dan sudutnya masih sama yaitu 80  ͦ. Kami melanjutkan lagi perjalanan dengan menyusuri jalan berlumpur bekas tambang emas hingga akhirnya kami dihadapkan dengan tanjakan pertama kami. Setelah melewati tanjakan pertama itu kami memutuskan untuk beristirahat makan ringan guna menambah kalori karena setelah ini kami akan membuka jalur sendiri. Setelah 20 menit beristirahat kami melanjutkan kembali pendakian, vegetasi pohon kerdil ditambah akar-akaran dan rotan cukup membuat kami kewalahan ditambah dengan medan yang menanjak dan mulai berbatu licin. Sekitar jam 2 siang kami sudah berada di ketinggian 121 mdpl di lembahan yang tidak dalam. Kami melanjutkan pendakian lagi, kali ini medan yang kami lalui adalah batuan-batuan lepas sehingga kami harus ekstra hati-hati. Sekitar 1 jam lebih kami mendaki di batuan lepas dan langkah kami terhenti di depan tebing tegak setinggi 15 meter sehingga kami harus melakukan orientasi medan. Akhirnya kami memutuskan untuk melipir ke kiri tebing tersebut karena medannya terlihat dapat dilalui. Kami mendaki dan terus mendaki, terkadang duri-duri rotan yang tajam menyangkut di rambut dan baju, belum lagi ditambah dengan 10 liter air serta logistik dan peralatan bawaan kami sehingga memperlambat pergerakan kami . Diketinggian 200-300 mdpl kami melewati vegetasi pohon-pohon berakar gantung dan berduri yang sangat rapat, kami menamainya vegetasi tanaman ‘robot’. Dari situlah kami sangat intens menggunakan Golok/Parang dan di ketinggian 300 mdpl kami melewati vegetasi pohon-pohon besar yang alasnya berbatuan lepas dengan sedikit tanah. Medan yang kami lalui sangat terjal, sehingga kami menggunakan webbing sebagai alat pembantu.

Pukul 17.30 wita kami sampai di ketinggian 412 mdpl berada tepat di tengah tebing scrambling, tenaga kami sudah terkuras sehingga kami harus berfikir ulang untuk melanjutkan pendakian yang masih terjal ini ditambah dengan matahari yang hendak terbenam ini. Kami memutuskan untuk mencari tempat yang sedikit landai untuk membuat camp, kami menuruni kembali tebing scramb itu hingga ketinggian 359 mdpl akhirnya kami menemukan tempat yang sedikit landai. Kami pun bergegas membuat bivack dengan plasit karena lokasi camp tidak memungkinkan kami untuk mendirikan tenda. Hari mulai gelap, suara-suara hewan malam mulai terdengar namun disaat itulah api yang kami buat mulai menerangi camp  sementara itu Mbak Meli sibuk dengan dapur kecilnya menyiapkan makan malam untuk kami. Asik saling bercerita akhirnya menu nasi telor mie goreng dan susu hangat sudah siap dan kami memakannya dengan lahap. Setelah itu kami evaluasi pendakian hari ini dan brifing pendakian esok lalu kami beristirahat.

Minggu 20 April 2014

Pukul 07.00  Wita pagi kami bangun dari tidur, kali ini Lagano yang membuat sarapan untuk kami. Berhubung masih ada 4 telur yang tersisa, kami pun memasaknya semua. Sarapan kami pagi ini adalah Nasi Telur Kerupuk dan Susu hangat. Setelah sarapan kami langsung mempacking semua barang, selepas berdoa kami langsung memulai pendakian. Kali ini kami memutar ke arah kanan tebing, melewati kaki-kaki tebing sambil mencari jalan yang sekiranya mudah dilalui. Setelah 1 jam lebih melewati pinggiran tebing akhirnya kami menemukan jalan yang landai, sembari mengikuti arah sudut tujuan kami terus berjalan hingga lagi-lagi kami dihadapkan dengan tebing yang terjal sehingga membuat kami harus menyisir kearah kanan tebing lagi. Jalan menanjak berbatu licin terus kami lewati terkadang kami bertemu pohon besar berdiameter lebih dari 4 meter.

Sekitar jam 11 siang insiden pun terjadi, A’at yang saat itu membuka jalur terpeleset di batu yang licin lalu dia terjatuh dan parang yang dipegang mengenai dahinya. Darah pun mulai bercucuran dari dahi A’at dan Lagano yang kala itu berada 5 meter di belakangnya berteriak “innalilahi bang A’at jatuh, kepalanya berdarah”. Meli dan Baga pun langsung cepat mendatangi mereka. Mereka langsung memberikan pertolongan pertama kepada A’at dengan menekan luka dan membersihkan darah dari wajahnya. “Hanya goresan kecil kok, memang darahnya yang keluar banyak tapi gakpapa kok” ujar Mbak Meli sambil tersenyum lega. Sambil menempelkan perban kami pun beristirahat selama 20 menit untuk menenangkan diri. Setelah itu kami melanjutkan kembali pendakian, kami sempat beberapa kali menemukan tempat landai dan langsung menandai di GPS. Sekitar jam 2 siang kami beristirahat untuk makan coklat dan cemilan guna memulihkan kembali tenaga kami. Kami memulai lagi pendakian, melewati tanjakan tanah dan jarang berbatu membuat kami kesulitan untuk mencari pegangan. Melihat ke arah depan yang terlihat hanyalah tanjakan yang seakan tiada habisnya namun sesekali hempasan sayap burung Enggang terdengar di atas pohon-pohon besar yang kami lewati. Sekitar jam 5 sore akhirnya kami sampai diujung tanjakan, dan kami dihadapkan dengan lembah gelap. Kami pun masuk ke lembah itu dan kami terus menyusuri lembah itu sesuai dengan arah kompas. Sekitar jam 7 malam kami beristirahat sejenak untuk makan malam ditempat yang cukup landai namun juga cukup menakutkan. Setelah makan malam kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Ketika sampai diketinggian 809 mdpl kami menemukan kubangan babi yang awalnya kami kira sumber air. Disitulah kompas kami sedikit bermasalah, kompas kami terus berputar-putar, sedangkan GPS kami tidak ada signalnya dan kabut sudah mulai turun hingga jarak pandang kami hanya sekitar 3 meter. Sehingga kami memutuskan untuk mencari tempat camp namun tidak di sekitar kubangan babi tersebut. Akhirnya kami menemukan tempat camp, kami bergegas mendirikan tenda dan membuat api ditengah-tengah itu kami masih memikirkan tentang kompas kami yang terus berputar di kubangan babi tersebut. Terkadang terlintas hal-hal berbau mistis saat berada di kubangan babi tersebut namun kami tetap harus berpikir rasional. Setelah evaluasi dan brifing sekitar jam 11 malam kami istirahat.

Senin 21 April 2014

Pagi ini kami terlambat bangun, namun kabut tebal masih menyelimuti pepohonan sekitar lokasi camp kami. Setelah keluar dari tenda kaki kami terlihat berdarah namun sudah mengering, itu berarti ada pacet yang masuk ke dalam tenda tadi malam dan mengigiti kami. Benar saja tak lama kami berdiri diluar tenda pacet mulai berdatangan, ternyata kami berdiri di sarang pacet. Lokasi camp kami berada di hutan lumut yang dingin dan lembab, sehingga wajar saja tempat ini banyak pacetnya. Setelah sarapan kami pun Orientasi medan dulu, kami berada di ketinggian 849 mdpl yang berarti kami sudah berada diantara puncak. Lagano pun naik keatas pohon untuk mengormed wilayah sekelilingnya namun tidak terlihat apa-apa karena masih tertutup kabut. Kami memutuskan untuk menunggu kabut hilang terlebih dahulu, sembari mempacking barang-barang kami. Sekitar jam 11 siang kabut mulai menghilang dan kami melihat puncak Malihat berada di kiri kami, kami pun langsung mengunci kompas kami kearah puncak dan memulai perjalanan.

Menyisiri tebing-tebing berlumut tebal kami menemukan kepiting , kami pun kaget mengapa ada kepiting diatas gunung yang sulit air namun itu juga bisa membuktikan bahwa di dalam gunung karst ini terdapat sumber air. Setelah melewati 2 tanjakan akhirnya kami sampai dipuncak kedua pada jam 2 siang namun karena harinya panas dan dipuncak Malihat tidak ada tempat berteduh kami memutuskan untuk beristirahat dulu dipuncak kedua.

Jam 4 sore kami mulai lagi pendakian menuju puncak, melewati ‘jembatan’ tebing yang tertutup semak belukar dan melewati sekumpulan tanaman kantong semar. Setelah itu kami mulai memanjat tebing-tebing scramb dan akhirnya setelah setengah jam bergelut dengan semak belukar kami sampai dipuncak Malihat dengan ketinggian 960 mdpl. Akhirnya setelah melakukan pendakian selama 3 hari tebayar sudah dengan mencapai puncak tertinggi gunung Malihat. Senja hari kami menyempatkan mengabadikan diri dengan sunset tepat diatas puncak Malihat. Bagi Mbak Meli dan Lagano ini adalah pertama kalinya mereka menaklukan gunung malihat sehingga beberapa kali mereka meluapkan kegembiraannya dengan berteriak dari atas puncak. Malam pun tiba, kami saling bercerita 3 hari pendakian yang telah dilewati. Kami meluapkan semua di saat evaluasi , tentang membunuh egoisme, kerjasama tim, manajemen air dan lain-lain.

Selasa 22 April 2014

Pukul 06.30 pagi kami sudah terjaga dari tidur karena hari ini kami menargetkan sampai ke desa. Kami pun bergegas sarapan pagi dan mempacking semua peralatan kami, disela-sela itu kami tak lupa mendokumentasikannya. Sekitar jam 8 pagi kami menyempatkan untuk berfoto di batu tanduk, awan yang indah berarak dibawah kami. Setelah puas berfoto kami melakukan orientasi medan dan menembak sudut kompas arah ke desa. Pada jam setengah 10 kami mulai menuruni gunung, dengan hati-hati kami menuruni gunung. Setelah melewati semak, kami memasuki hutan lumut yang dingin, disanalah kami beristirahat. 15 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan, kali ini kami menemui jurang yang terjal, namun dengan bantuan webbing kami tetap menuruni jurang tersebut demi mempercepat penurunan kami. Sesampainya di ketinggian 321 mdpl kami mulai turun landai, hingga jam 4 siang kami tiba di lokasi tambang emas. Kami menyusuri tambang emas hingga tembus ke pinggir sungai dan bertemu warga yang membawa rakit dari kayu yang hendak diantar ke desa busui. Kami pun menumpang rakit tersebut, meskipun harus basah-basah hingga sepaha tapi lumayanlah kami tak harus membuang tenaga lagi untuk menyusuri sungai. Jam setengah 6 sore akhirnya kami sampai di desa Busui dengan selamat.

By : Aat IM.UM-13.427-DR


Leave a Reply

Powered by WordPress and HQ Premium Themes.